Rabu, 21 Maret 2012

Pilihan yang Membuatku Menangis

Bismillah...
Beeeuh, cukup melelahkan hari itu, keluh kesah sangat aku rasakan dalam rohani dan batinku, namun aku tak mau mengeluh di depan ibu, karena aku sangat tahu bahwa ibu sangat benci jika aku mengeluh.
Sore itu seperti biasa, sepulang sekolah aku memasuki rumah dengan salam, namun karena ibuku sedang menjaga warung jadi tak ada seorang pun di rumah mungil itu. Aku bergegas memasuki kamar untuk mengganti pakaian, selesai mengganti aku membaringkan tubuh kecilku untuk beristirahat. Tak lama aku keluar hanya sekedar duduk di ruang tamu, bermain BB milik adikku, yaaa hanya sekedar melihat-lihat foto dan mendengarkan musik, tak lama ibu masuk dan cukup mengagetkanku. Ibu cerita-cerita akan beberapa kejadian yang terjadi di warung tadi, aku hanya menjadi seorang pendengar, kemudian ibu menanyakan tentang cita-citaku, aku hanya menjawab dengan diam dan senyumku, dan ibu menanyakan aku akan melanjutkan ke universitas apa ? Kedua kalianya aku menjawab dengan diamku, dan ibu membalas dengan senyuman.
Indahnyaaaaa senyuman ibuku...
Kemudian ibu berkata kepadaku, "nanti kalau sudah lulus, katanya bapak mau kamu masuk sekolah tinggi taransportasi saja yang dekat rumah", yaaa sekejap aku menjawab, "Hah apa ? gak tau deh" ibu terus membujukku dengan rayuan manisnya, namun aku hanya diam tidak seperti biasanya yang langsung tertarik akan rayuan ibu.

Seketika aku meneteskan air mataku, bagaimana tidak ? aku selama ini mencoba menjaga auratku di depan umum, tiba-tiba disarankan ibu untuk memasuki sekolah itu. Dahulu sekolah itu memang menjadi impianku, namun ketika usiaku memasuki 14 tahun aku merasa tidak yakin terhadap impian itu. Saat aku sadar aku berada dalam lingkungan rohis dan belajar mendalami islam. Jika aku bersekolah di sana mungkin aku tetap berkerudung, namun aku akan mengumbar auratku, bagaimana tidak ? Aku cukup sering melihat perempuan yang bersekolah di sana begitu banyak yang berkerudung namun mengggunakan pakai dan seragam yang cukup ketat dan membentuk lekuk tubuh, sedangkan dalam syariat islam pakain yang syar'i bagi kaum hawa salah satunya tidak membentuk lekuk tubuh, itulah alasan pertamaku kenapa aku tak ingin menuruti kemauan ibuku tercinta.

Mata terus meneteskan air mata di malam itu, sulit rasanya aku membendung air mata itu, hingga aku putuskan untuk diam di kamar, memang biasanya juga hanya diam di kamar si heeheehe, namun aku merasa malam itu adalah malam penuh kegalauan, namun aku serahkan semuanya kepada Allah, hingga hari ini aku menunggu sebuah jawaban yang terbaik dari Allah setelah lulus nanti.
Semoga jawaban itu terbaik untuk ibu bapak, aku, dan umat muslim.
Aamiin

0 komentar:

Posting Komentar