Sabtu, 24 Maret 2012

Percakapan Rasulullah dengan Iblis

Assalammualaikum Wr.Wb.


Semoga bermanfaat bagi yang membacanya

Allah SWT telah memerintahkan seorang Malaikat menemui Iblis supaya dia menghadap Rasulullah saw untuk memberitahu segala rahasianya, baik yang  disukai maupun yang dibencinya. Hikmatnya ialah untuk meninggikan derajat Nabi Muhammad SAW dan juga sebagai peringatan dan perisai kepada umat manusia.

Maka Malaikat itu pun berjumpa Iblis dan berkata, “Hai Iblis! Bahwa Allah Yang Maha Mulia dan Maha Besar memberi perintah untuk menghadap Rasullullah saw. Hendaklah engkau buka segala rahasiamu dan apapun yang ditanya Rasulullah hendaklah engkau jawab dengan sebenar-benarnya. Jikalau engkau   berdusta walau satu perkataan pun, niscaya akan terputus semua anggota  badanmu, uratmu, serta disiksa dengan azab yang amat keras.”

Mendengar ucapan Malaikat yang dahsyat itu, Iblis sangat ketakutan. Maka segeralah dia menghadap Rasulullah SAW dengan menyamar sebagai seorang tua yang buta sebelah matanya dan berjanggut putih 10 helai, panjangnya seperti ekor lembu.

Iblis pun memberi salam, sehingga 3 kali tidak juga dijawab oleh Rasulullah saw. Maka sambut Iblis (alaihi laknat),
“Ya Rasulullah! Mengapa engkau tidak mejawab salamku?
 Bukankah salam itu sangat mulia di sisi Allah?
” Maka jawab Nabi dengan marah, “Hai Aduwullah seteru Allah! Kepadaku engkau menunjukkan kebaikanmu?
 Janganlah mencoba menipuku sebagaimana kau tipu Nabi Adam a.s sehingga keluar dari syurga,  Habil mati teraniaya dibunuh Qabil dengan sebab hasutanmu, Nabi Ayub engkau  tiup dengan asap beracun ketika dia sedang sujud sembahyang hingga dia sengsara beberapa lama, kisah Nabi Daud dengan perempuan Urya, Nabi Sulaiman meninggalkan kerajaannya karena engkau menyamar sebagai  isterinya dan begitu juga beberapa Anbiya dan pendeta yang telah menanggung sengsara  akibat hasutanmu.

Hai Iblis! Sebenarnya salam itu sangat mulia di sisi Allah azza wajalla, cuma salammu saja aku tidak hendak menjawabnya karena diharamkan Allah.  Maka aku kenal baik-baik engkaulah Iblis, raja segala iblis, syaitan dan jin yang menyamar diri. Apa kehendakmu datang menemuiku?”
Taklimat Iblis, “Ya Nabi Allah! Janganlah engkau marah. Karena engkau  adalah Khatamul Anbiya maka dapat mengenaliku. Kedatanganku adalah diperintah Allah untuk memberitahu segala tipu dayaku terhadap umatmu dari  zaman Nabi Adam hingga akhir zaman. Ya Nabi Allah! Setiap apa yang  engkau  tanya, aku bersedia menerangkan satu persatu dengan sebenarnya, tiadalah  aku berani menyembunyikannya.”

Maka Iblis pun bersumpah menyebut nama Allah dan berkata, “Ya Rasulullah! Sekiranya aku berdusta barang sepatah pun niscaya hancur leburlah badanku  menjadi abu.” pah Iblis itu, Nabi pun tersenyum dan berkata dalam atinya, inilah satu peluangku untuk menyiasati segala perbuatannya agar didengar oleh sekalian sahabat yang ada di majlis ini dan menjadi perisai  kepada seluruh umatku.

Pertanyaan Nabi (1):
Hai Iblis! Siapakah sebesar-besar musuhmu dan bagaimana aku terhadapmu?” 

Jawab Iblis:
“Ya Nabi Allah! Engkaulah musuhku yang paling besar di antara segala musuhku di muka bumi ini.” Maka Nabi pun memandang muka Iblis, dan Iblis pun menggeletar karena ketakutan. Sambung Iblis, “Ya Khatamul Anbiya! Ada pun aku dapat merubah diriku seperti sekalian manusia, binatang dan lain-lain hingga rupa dan  suara pun tidak berbeda, kecuali dirimu saja yang tidak dapat aku tiru karena dicegah oleh Allah.
Kiranya aku menyerupai dirimu, maka terbakarlah diriku menjadi abu. Aku cabut iktikad / niat anak Adam supaya menjadi kafir karena engkau berusaha memberi nasihat dan pengajaran supaya mereka kuat untuk memeluk agama Islam, begitu jugalah aku berusaha menarik mereka kepada kafir, murtad atau munafik. Aku akan menarik seluruh umat Islam dari jalan benar menuju  jalan yang sesat supaya masuk ke dalam neraka dan kekal di dalamnya bersamaku.”

Pertanyaan Nabi (2):
“Hai Iblis! Bagaimana perbuatanmu kepada makhluk Allah?”

Jawab Iblis:
“Adalah satu kemajuan bagi perempuan yang merenggangkan kedua pahanya  kepada lelaki yang bukan suaminya, setengahnya hingga mengeluarkan benih yang salah sifatnya. Aku goda semua manusia supaya meninggalkan sholat, terbuai dengan makan minum, berbuat durhaka, aku lalaikan dengan harta  benda daripada emas, perak dan permata, rumahnya, tanahnya, ladangnya supaya hasilnya dibelanjakan ke jalan haram.
Demikian juga ketika pesta yang bercampur antara lelaki dan perempuan. Di sana aku lepaskan sebesar-besar godaan supaya hilang peraturan dan minum  arak. Apabila terminum arak itu maka hilanglah akal, fikiran dan malunya. Lalu aku ulurkan tali cinta dan terbukalah beberapa pintu maksiat yang besar, datang perasaan hasad dengki hingga kepada pekerjaan zina.
Apabila  terjadi kasih antara mereka, terpaksalah mereka mencari uang hingga menjadi  penipu, peminjam dan pencuri.
Apabila mereka teringat akan salah mereka lalu hendak bertaubat atau berbuat amal ibadat, aku akan rayu mereka supaya mereka menangguhkannya. Bertambah keras aku goda supaya menambahkan maksiat dan mengambil isteri orang. Bila kena goda hatinya, datanglah rasa ria, takabur, megah, sombong  dan melengahkan amalnya. Bila pada lidahnya, mereka akan gemar berdusta, mencela dan mengumpat. Demikianlah aku goda mereka setiap saat.”

Pertanyaan Nabi (3):
“Hai Iblis! Mengapa engkau bersusah payah melakukan pekerjaan yang tidak mendatangkan faedah bahkan menambahkan laknat yang besar serta siksa  yang besar di neraka yang paling bawah? Hai yang dikutuk Allah! Siapa yang menjadikanmu? Siapa yang melanjutkan usiamu? Siapa yang menerangkan matamu? Siapa yang memberi pendengaranmu? Siapa yang memberi kekuatan anggota badanmu?”

Jawab Iblis:
“Semuanya itu adalah anugerah daripada Allah Yang Maha Besar juga. Tetapi hawa nafsu dan takabur membuatku menjadi jahat sebesar-besarnya. Engkau lebih tahu bahwa Diriku telah beribu-ribu tahun menjadi ketua seluruh Malaikat dan pangkatku telah dinaikkan dari satu langit ke satu langit yang tinggi. Kemudian Aku tinggal di dunia ini beribadat bersama sekalian Malaikat beberapa waktu lamanya.
Tiba-tiba datang firman Allah SWT hendak menjadikan seorang Khalifah di  dunia ini, maka akupun membantah. Lalu Allah menciptakan lelaki (Nabi Adam) lalu dititahkan seluruh Malaikat memberi hormat kepada lelaki itu, kecuali aku yang ingkar. Oleh karena itu Allah murka kepadaku dan wajahku yang  tampan rupawan dan bercahaya itu bertukar menjadi keji dan kelam. Aku merasa sakit hati. Kemudian Allah menjadikan Adam raja di syurga dan dikurniakan seorang permaisuri (Siti Hawa) yang memerintah seluruh bidadari. Aku bertambah dengki dan dendam kepada mereka.
Akhirnya aku berhasil menipu mereka melalui Siti Hawa yang menyuruh Adam memakan buah Khuldi, lalu keduanya diusir dari syurga ke dunia. Keduanya berpisah beberapa tahun dan kemudian dipertemukan Allah (di Padang Arafah), hingga mereka mendapat beberapa orang anak. Kemudian kami hasut anak lelakinya Qabil supaya membunuh saudaranya Habil. Itu pun aku masih tidak puas hati dan berbagai tipu daya aku lakukan hingga Hari Kiamat.
Sebelum Engkau lahir ke dunia, aku beserta bala tentaraku dengan mudah dapat naik ke langit untuk mencuri segala rahasia serta tulisan yang menyuruh manusia berbuat ibadat serta balasan pahala dan syurga mereka.  Kemudian aku turun ke dunia, dan memberitahu manusia yang lain daripada apa yang sebenarnya aku dapatkan, dengan berbagai tipu daya hingga tersesat dengan berbagai kitab bid’ah dan carut-marut.
Tetapi ketika engkau lahir ke dunia ini, maka aku tidak dibenarkan oleh  Allah untuk naik ke langit serta mencuri rahasia, kerana banyak Malaikat yang menjaga di setiap lapisan pintu langit. Jika aku berkeras juga hendak naik, maka Malaikat akan melontarkan anak panah dari api yang menyala. Sudah banyak bala tenteraku yang terkena lontaran Malaikat itu dan semuanya terbakar menjadi abu. Maka besarlah kesusahanku dan bala tentaraku untuk menjalankan tugas menghasut.”

Pertanyaan Nabi (4):
“Hai Iblis! Apakah yang pertama engkau tipu dari manusia?” 

Jawab Iblis:
“Pertama sekali aku palingkan iktikad / niatnya, imannya kepada kafir juga ada dari segi perbuatan, perkataan, kelakuan atau hatinya. Jika tidak  berhasil juga, aku akan tarik dengan cara mengurangi pahala. Lama-kelamaan mereka akan terjerumus mengikut kemauan jalanku” 

Pertanyaan Nabi (5):
“Hai Iblis! Jika umatku sholat karena Allah, bagaimana keadaanmu?”

Jawab Iblis:
“Sebesar-besarnya kesusahanku. Gementarlah badanku dan lemah tulang sendiku. Maka aku kerahkan berpuluh-puluh iblis datang menggoda seorang manusia, pada setiap anggota badannya.
Setengah-setengahnya datang pada setiap anggota badannya supaya malas sholat, was-was, terlupa bilangan rakaatnya, bimbang pada pekerjaan dunia yang ditinggalkannya, sentiasa hendak cepat habis sholatnya, hilang khusyuknya – matanya sentiasa menjeling ke kiri kanan, telinganya senantiasa mendengar orang bercakap serta bunyi-bunyi yang lain. Setengah Iblis duduk di belakang badan orang yang sembahyang itu supaya dia tidak kuasa sujud berlama-lama, penat atau duduk tahiyat dan dalam hatinya senantiasa hendak cepat habis sholatnya, itu semua membawa kepada kurangnya pahala. Jika para Iblis itu tidak dapat menggoda manusia itu, maka aku  sendiri akan menghukum mereka dengan seberat-berat hukuman.”

Pertanyaan Nabi (6):
“Jika umatku membaca Al-Quran karena Allah, bagaimana perasaanmu?”

Jawab Iblis:
“Jika mereka membaca Al-Quran karena Allah, maka rasa terbakarlah  tubuhku, putus-putus segala uratku lalu aku lari daripadanya.”

Pertanyaan Nabi (7):
“Jika umatku mengerjakan haji karena Allah, bagaimana perasaanmu?” 

Jawab Iblis:
“Binasalah diriku, gugurlah daging dan tulangku karena mereka telah mencukupkan rukun Islamnya.”

Pertanyaan Nabi (8):
“Jika umatku berpuasa karena Allah, bagaimana keadaanmu?”

Jawab Iblis:
“Ya Rasulullah! Inilah bencana yang paling besar bahayanya kepadaku.  Apabila masuk awal bulan Ramadhan, maka memancarlah cahaya Arasy dan Kursi, bahkan seluruh Malaikat menyambut dengan suka cita. Bagi orang yang berpuasa, Allah akan mengampunkan segala dosa yang lalu dan digantikan  dengan pahala yang amat besar serta tidak dicatatkan dosanya selama dia berpuasa. Yang menghancurkan hatiku ialah segala isi langit dan bumi, yakni  Malaikat, bulan, bintang, burung dan ikan-ikan semuanya siang malam  mendoakan ampunan bagi orang yang berpuasa. Satu lagi kemuliaan orang berpuasa ialah dimerdekakan pada setiap masa dari azab neraka. Bahkan semua  pintu neraka ditutup manakala semua pintu syurga dibuka seluas-luasnya, serta dihembuskan angin dari bawah Arasy yang bernama Angin Syirah yang  amat lembut ke dalam syurga. Pada hari umatmu mulai berpuasa, dengan perintah Allah datanglah sekalian Malaikat dengan garangnya menangkapku  dan  tentaraku, jin, syaitan dan ifrit lalu dipasung kaki dan tangan dengan besi  panas dan dirantai serta dimasukkan ke bawah bumi yang amat dalam. Di sana pula beberapa azab yang lain telah menunggu kami. Setelah habis umatmu berpuasa barulah aku dilepaskan dengan perintah agar tidak mengganggu umatmu. Umatmu sendiri telah merasa ketenangan berpuasa sebagaimana mereka bekerja dan bersahur seorang diri di tengah malam tanpa rasa takut  dibandingkan bulan biasa.”

Pertanyaan Nabi (9):
“Hai Iblis! Bagaimana seluruh sahabatku menurutmu?”

Jawab Iblis:
“Seluruh sahabatmu juga adalah sebesar – besar seteruku. Tiada upayaku melawannya dan tiada satu tipu daya yang dapat masuk kepada mereka. Karena engkau sendiri telah berkata: “Seluruh sahabatku adalah seperti bintang dilangit, jika kamu mengikuti mereka, maka kamu akan mendapat petunjuk.”
Sayidina Abu Bakar al-Siddiq sebelum bersamamu, aku tidak dapat mendekatinya, apalagi setelah berdampingan denganmu. Dia begitu percaya atas kebenaranmu hingga dia menjadi wazirul a’zam. Bahkan engkau sendiri  telah mengatakan jika ditimbang seluruh isi dunia ini dengan amal kebajikan Abu Bakar, maka akan lebih berat amal kebajikan Abu Bakar. Tambahan pula dia telah menjadi mertuamu karena engkau menikah dengan anaknya,  Saiyidatina Aisyah yang juga banyak menghafadz Hadits-haditsmu.
Sayidina Umar Al-Khattab pula tidaklah berani aku pandang wajahnya karena dia sangat keras menjalankan hukum syariat Islam dengan seksama. Jika aku pandang wajahnya, maka gemetarlah segala tulang sendiku karena sangat takut. Hal ini karena imannya sangat kuat apalagi engkau telah mengatakan, “Jikalau adanya Nabi sesudah aku maka Umar boleh menggantikan aku”,  karena dia adalah orang harapanmu serta pandai membedakan antara kafir dan Islam hingga digelar ‘Al-Faruq’.
Saidina Usman Al-Affan lagi, aku tidak bisa bertemu, karena lidahnya senantiasa bergerak membaca Al-Quran. Dia penghulu orang sabar, penghulu  orang mati syahid dan menjadi menantumu sebanyak dua kali. Karena taatnya, banyak Malaikat datang melawat dan memberi hormat kepadanya karena Malaikat itu sangat malu kepadanya hingga engkau mengatakan, “Barang siapa  menulis Bismillahir rahmanir rahim pada kitab atau kertas-kertas dengan dakwat merah, nescaya mendapat pahala seperti pahala Usman mati syahid.”
Sayidina Ali Abi Talib pun itu aku sangat takut karena hebatnya dan gagahnya dia di medan perang, tetapi sangat sopan santun, alim orangnya. Jika iblis, syaitan dan jin memandang beliau, maka terbakarlah kedua mata mereka karena dia sangat kuat beribadat serta beliau adalah golongan orang pertama  memeluk agama Islam dan tidak pernah menundukkan kepalanya kepada sebarang berhala. Bergelar ‘Ali Karamullahu Wajhahu’ – dimuliakan Allah akan wajahnya dan juga ‘Harimau Allah’ dan engkau sendiri berkata, “Akulah  negeri segala ilmu dan Ali itu pintunya.” Tambahan pula dia menjadi menantumu, semakin aku ngeri kepadanya.”

Pertanyaan Nabi (10):
“Bagaimana tipu daya engkau kepada umatku?”

Jawab Iblis:
“Umatmu itu ada tiga macam. Yang pertama seperti hujan dari langit yang menghidupkan segala tumbuhan yaitu ulama yang memberi nasihat kepada manusia supaya mengerjakan perintah Allah serta meninggalkan laranganNya  seperti kata Jibril a.s, “Ulama itu adalah pelita dunia dan pelita akhirat.” Yang kedua umat tuan seperti tanah yaitu orang yang sabar, syukur dan ridha dengan karunia Allah. Berbuat amal soleh, tawakal dan kebajikan.
Yang ketiga umatmu seperti Firaun; terlampau tamak dengan harta dunia serta dihilangkan amal akhirat. Maka akupun bersukacita lalu masuk ke dalam badannya, aku putarkan hatinya ke lautan durhaka dan aku hela ke mana  saja mengikuti kehendakku. Jadi dia senantiasa bimbang kepada dunia dan tidak hendak menuntut ilmu, tiada masa beramal ibadat, tidak hendak mengeluarkan zakat, miskin hendak beribadat.
Lalu aku goda agar minta kaya dulu, dan apabila diizinkan Allah dia  menjadi kaya, maka dilupakan beramal, tidak berzakat seperti Qarun yang tenggelam dengan istana mahligainya. Bila umatmu terkena penyakit tidak sabar dan tamak, dia senantiasa bimbang akan hartanya dan setengahnya asyik hendak  merebut dunia harta, bercakap besar sesama Islam, benci dan menghina kepada yang miskin, membelanjakan hartanya untuk jalan maksiat, tempat judi dan perempuan lacur.”

Pertanyaan Nabi (11):
“Siapa yang serupa dengan engkau?” 
Jawab Iblis:
“Orang yang meringankan syariatmu dan membenci orang belajar agama Islam.”

Pertanyaan Nabi (12):
“Siapa yang mencahayakan muka engkau?”

Jawab Iblis:
“Orang yang berdosa, bersumpah bohong, saksi palsu, pemungkir janji.”

Pertanyaan Nabi (13):
“Apakah rahasia engkau kepada umatku?”

Jawab Iblis:
“Jika seorang Islam pergi buang air besar serta tidak membaca doa  pelindung syaitan, maka aku gosok-gosokkan najisnya sendiri ke badannya tanpa dia sadari.”

Pertanyaan Nabi (14):
“Jika umatku bersatu dengan isterinya, bagaimana hal engkau?”

Jawab Iblis:
“Jika umatmu hendak bersetubuh dengan isterinya serta membaca doa pelindung syaitan, maka larilah aku dari mereka. Jika tidak, aku akan bersetubuh dahulu dengan isterinya, dan bercampurlah benihku dengan benih isterinya. Jika menjadi anak maka anak itu akan gemar kepada pekerjaan maksiat, malas pada kebaikan, durhaka. Ini semua karena kealpaan ibu bapaknya sendiri. Begitu juga jika mereka makan tanpa membaca Bismillah, aku yang dahulu  makan daripadanya. Walaupun mereka makan, tiadalah merasa kenyang.”

Pertanyaan Nabi (15):
“Dengan jalan apa dapat menolak tipu daya engkau?

Jawab Iblis:
“Jika dia berbuat dosa, maka dia kembali bertaubat kepada Allah, menangis menyesal akan perbuatannya. Apabila marah segeralah mengambil air wudhu’, maka padamlah marahnya.”

Pertanyaan Nabi (16):
“Siapakah orang yang paling engkau lebih sukai?”

Jawab Iblis:
Lelaki dan perempuan yang tidak mencukur atau mencabut bulu ketiak atau bulu ari-ari (bulu kemaluan) selama 40 hari. Di situlah aku mengecilkan diri, bersarang, bergantung, berbuai seperti pijat pada bulu itu.”

Pertanyaan Nabi (17):
“Hai Iblis! Siapakah saudara engkau?”

Jawab Iblis:
“Orang yang tidur meniarap / telungkup, orang yang matanya terbuka(mendusin) di waktu subuh tetapi menyambung tidur lagi. Lalu aku lenakan  dia hingga terbit fajar. Demikian jua pada waktu zuhur, asar, maghrib dan isya’, aku beratkan hatinya untuk sholat.”

Pertanyaan Nabi (18):
“Apakah jalan yang membinasakan diri engkau?”

Jawab Iblis:
“Orang yang banyak menyebut nama Allah, bersedekah dengan tidak diketahui orang, banyak bertaubat, banyak tadarus Al-Quran dan sholat tengah malam.”

Pertanyaan Nabi (19):
“Hai Iblis! Apakah yang memecahkan mata engkau?”

Jawab Iblis:
“Orang yang duduk di dalam masjid serta beriktikaf di dalamnya”

Pertanyaan Nabi (20):
“Apa lagi yang memecahkan mata engkau?”

Jawab Iblis:
“Orang yang taat kepada kedua ibu bapanya, mendengar kata mereka, membantu makan pakaian mereka selama mereka hidup, karena engkau telah bersabda, ‘Syurga itu di bawah tapak kaki ibu’”

Wassalamu’alaikum Wr. Wb. Semoga menjadi bahan renungan bagi kita semua..
Copast dari blog sebelah ^.^

Jumat, 23 Maret 2012

Ketika Mr. Simple Pergi

Mr. Simple...
Panggilan untuknya, dia memang seorang laki-laki yang menurutku sederhana. Kami tak mengenal satu sama lain, padahal kami satu organisasi, mungkin karena kau yang sangat cuek terhadap laki-laki yaaaa memang sudah terbiasa sejak SMP aku lebih memilih cuek kepada laki-laki hingga aku memasuki kehidupan SMA. Aku memilih organisasi itu atas bujukan sahabatku, yaaaa karena untuk meneruskan perjuangan kami, aku mengikuti bujukan sahabatku tak lama aku memasuki organisasi itu aku berkenalan dengan seorang laki-laki yang ku panggil Mr. Simple, jangan kalian bayangkan cara perkenalan yang dengan berjabat tangan atau seperti orang lain biasanya. Kami berkenalan melalui salah orang, iya berpikir bahwa kau adalah seseorang yang ia maksud, namun ternyata tidak. Melalui salah orang itu kami mempunyai hubungan yang semakin dekat, bahkan aku sudah menganggapnya seorang kakak kandungku. Hari demi hari kita lakukan bersama, tak ada yang tahu akan kedekatan kita di organisasi itu. Kami semakin dekat karena kami terpilih untuk mewakili organisasi kami dalam berlomba. Ia memang bagaikan kakak kandungku, yang selalu ada saat dibutuhkan, selalu memberi perhatian kepadaku, kasih sayang kepadaku, serta apa yang aku mau. Ia selalu bersedia mendengarkan curahan hatiku, melakukan hal yang aku inginkan, dan tidak melakukan hal yang tidak ku sukai. Semua itu kami jalani hampir beberapa bulan, hingga akhirnya seorang sahabat berkata kepadaku bahwa sebenarnya Mr. Simple itu menyayangiku bukan hanya sekedar Adik, melainkan lebih. Aku masih tidak percaya akan apa yang di ucapkan oleh temanku, namun hal itu terus menghantui pemikiranku. Hingga aku memutuskan untuk menjaga jarak darinya, memang cukup sulit, orang yang ku anggap sebagai kakakku sendiri kini harus ku jauhi, dan akhirnya ia merasa bahwa aku telah mengetahui hal itu. Hubungan kami pun berakhir begitu saja, kini aku dengannya bagaikan orang tak saling mengenal satu sama lain di lingkungan luar, namun tidak dalam organisasi kami, kami tetap profesional melakukannya. Sesekali kami melakukan silaturahmi melalui via sms hanya sekedar memberitahukan tentang info organisasi kami . 

Kini semua telah pergi bagaikan debu yang tertiup angin.
Begitu banyak yang kau titipkan pesan untukku.
Aku untuk mencoba melakukan apa yang kau mau.
Aku tak bisa menjawab pertanyaanmu.
Aku hanya bisa diam untukmu.

Bila nanti kamu akan melanjutkan sekolahmu nan jauh, ingatlah aku adikmu di sini masih memerlukanmu
Teruntuk Mr. Simple

Rabu, 21 Maret 2012

Pilihan yang Membuatku Menangis

Bismillah...
Beeeuh, cukup melelahkan hari itu, keluh kesah sangat aku rasakan dalam rohani dan batinku, namun aku tak mau mengeluh di depan ibu, karena aku sangat tahu bahwa ibu sangat benci jika aku mengeluh.
Sore itu seperti biasa, sepulang sekolah aku memasuki rumah dengan salam, namun karena ibuku sedang menjaga warung jadi tak ada seorang pun di rumah mungil itu. Aku bergegas memasuki kamar untuk mengganti pakaian, selesai mengganti aku membaringkan tubuh kecilku untuk beristirahat. Tak lama aku keluar hanya sekedar duduk di ruang tamu, bermain BB milik adikku, yaaa hanya sekedar melihat-lihat foto dan mendengarkan musik, tak lama ibu masuk dan cukup mengagetkanku. Ibu cerita-cerita akan beberapa kejadian yang terjadi di warung tadi, aku hanya menjadi seorang pendengar, kemudian ibu menanyakan tentang cita-citaku, aku hanya menjawab dengan diam dan senyumku, dan ibu menanyakan aku akan melanjutkan ke universitas apa ? Kedua kalianya aku menjawab dengan diamku, dan ibu membalas dengan senyuman.
Indahnyaaaaa senyuman ibuku...
Kemudian ibu berkata kepadaku, "nanti kalau sudah lulus, katanya bapak mau kamu masuk sekolah tinggi taransportasi saja yang dekat rumah", yaaa sekejap aku menjawab, "Hah apa ? gak tau deh" ibu terus membujukku dengan rayuan manisnya, namun aku hanya diam tidak seperti biasanya yang langsung tertarik akan rayuan ibu.

Seketika aku meneteskan air mataku, bagaimana tidak ? aku selama ini mencoba menjaga auratku di depan umum, tiba-tiba disarankan ibu untuk memasuki sekolah itu. Dahulu sekolah itu memang menjadi impianku, namun ketika usiaku memasuki 14 tahun aku merasa tidak yakin terhadap impian itu. Saat aku sadar aku berada dalam lingkungan rohis dan belajar mendalami islam. Jika aku bersekolah di sana mungkin aku tetap berkerudung, namun aku akan mengumbar auratku, bagaimana tidak ? Aku cukup sering melihat perempuan yang bersekolah di sana begitu banyak yang berkerudung namun mengggunakan pakai dan seragam yang cukup ketat dan membentuk lekuk tubuh, sedangkan dalam syariat islam pakain yang syar'i bagi kaum hawa salah satunya tidak membentuk lekuk tubuh, itulah alasan pertamaku kenapa aku tak ingin menuruti kemauan ibuku tercinta.

Mata terus meneteskan air mata di malam itu, sulit rasanya aku membendung air mata itu, hingga aku putuskan untuk diam di kamar, memang biasanya juga hanya diam di kamar si heeheehe, namun aku merasa malam itu adalah malam penuh kegalauan, namun aku serahkan semuanya kepada Allah, hingga hari ini aku menunggu sebuah jawaban yang terbaik dari Allah setelah lulus nanti.
Semoga jawaban itu terbaik untuk ibu bapak, aku, dan umat muslim.
Aamiin

Dakwah = Cinta


DAKWAH adalah CINTA

Cinta akan meminta semuanya dari kamu, perhatianmu, pemikiranmu, jalanmu, dudukmu, bahkan di tengah lelapmu.
Mimpimu pun tentang dakwah
Tentang umat yang kau cintai
Dakwah akan menyedot energi terbaikmu, sampai tulang belulangmu luluh lantak diseret-seret, yang hancur karena dipaksa berlari.
Hmm, dakwah bukannya tidak melelahkan, bukan tidak membosankan, bukan tidak menyakitkan, bahkan pejuang-pejuang dijalan ini tak sepi dari godaan kefuturan, TIDAK (!) Justru sakit itu selalu membersamai mereka, Hingga hasrat untuk mengeluh tak lagi menggoda, hingga mereka berseri-seri saat mata mendapati indah Jannah-Nya. (Ust. Rahmat Abdullah)
Itu adalah SMS yang diberikan oleh salah seorang motivator Dakwah ku, di saat aku mengeluh tentang sulitnya jalan yang harus aku tempuh dalam dunia Dakwah ini. Subhanallah...! Ternyata yang merangkai kata-kata ini adalah Ust. Rahmat Abdullah, yang terkenal dalam perjuangannya di jalan Dakwah. Yang tiada henti ber-Dakwah, demi umat muslim. Jujur, aku belum mengenal dekat dengan beliau. Tetapi, banyak di antara teman-temanku serta para Murabbiku yang menjelaskan kedahsyatan sepak terjang Ust Rahmat Abdullah ini. Teringat akan sebuah lirik Nasyid, : “Menapaki langkah - langkah berduri Menyusuri rawa, lembah dan hutan Berjalan diantara tebing jurang Semua dilalui demi perjuangan Letih tubuh di dalam perjalanan Saat Hujan dan badai merasuki badan Namun jiwa harus terus bertahan Karena perjalanan masih panjang Kami adalah tentara Allah Siap melangkah menuju ke medan juang Walau tertatih kaki ini berjalan Jiwa perindu syahid tak akan tergoyahkan Wahai tentara Allah bertahanlah Jangan menangis walau jasadmu terluka Sebelum engkau bergelar syuhada Tetaplah bertahan dan bersiap siagalah” “Gunung tinggi menjulang, Samudera luas membentang, adalah lahan peneguhan, Hutan Rimba, Padang gersang, jadi ajang pembuktian, Hujan badai, terik panas kerontang, pasti kan hiasi perjalanan, Saat langkah telah diayunkan, pantang surut ke belakang, Hingga sampai ketujuan, BERTAHANLAH DAN BERSIAP-SIAGALAH....!!! Itulah sebuah lirik dan puisi dari tim Nasyid Izzatul Islam, yang penuh menggambarkan pribadi beliau, yang pantang menyerah, sampai titik darah penghabisan., Lalu, bagaimana dengan kita...? Apakah kita sudah bersikap totalitas seperti Beliau..? Apakah kita selalu mengeluhkan sakitnya perjalanan Dakwah ini...? Apakah kita, selalu menyalahkan orang lain terlebih dahulu, ketimbang mengoreksi banyak-banyak diri kita...? Kalau jawabannya YA atau BELUM, maka, kita tidak bisa merasakan nikmatnya jalan Dakwah ini. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Beliau di atas. Beliau merasa begitu nikmat, begitu DAHSYAT, begitu LUAR BIASA jalan Dakwah ini. Kalau kita, berhenti di tengah-tengah Jalan Dakwah, hanya, karena banyak circaan, makian, hinaan, atau bahkan sampai mengorbankan Tenaga dan Pikiran kita. Maka, kita SALAH BESAR. Kenapa...? karena, kalau seluruh umat muslim ini berpikiran seperti itu, dapat DIPASTIKAN, kita AKAN DIHANCURKAN oleh bangsa Laknatullah... Na’udzubillahimindzalik..... Semenjak SMA, saya juga pernah merasakannya. Datang paling Pagi, kalau bisa se-Pagi mungkin. Dan pulang Paling Akhir, Bahkan sampai menjelang tengah malam. HANYA, untuk kebutuhan Dakwah.., Saat naik di bangku kuliah pun, semangat saya untuk berdakwah tidak luntur...!!! malah semakin bertambah, bertambah, dan bertambah terus tak terbendung. Walaupun, jarak dari rumahku lebih Jauh, walaupun harga Transport saya lebih besar, WALAUPUN terkadang letih tubuh ini. Tetapi, itulah seninya berdakwah. Dalam Dakwah, jangan HARAP jalan kita akan mulus, JANGAN harap, kita akan di sanjung-sanjung, dan Sekali Lagi, JANGAN HARAP, semuanya akan mendukung pergerakan Dakwah kita. Ingatlah wahai Saudaraku., Allah akan menolong Hamba-Nya yang menolong Agama-Nya. Prinsip itu, yang ku pegang sungguh-sungguh., agar aku tetap komitmen dalam perjuangan Dakwah ini. Karena, para pendahulu kita, seperti Ust. Rahmat Abdullah, atau Bahkan Rasulullah sekalipun, mengharapkan suat generasi Baru. Generasi yang dapat memperkokoh persatuan dan kesatuan keislamannya. Generasi, yang Tak gentar oleh cercaan dan Hinaan dari penghalang-penghalang Jalan Dakwah ini... Mengutip dari sebuah lirik kembali : “Generasi Baru, yang telah dinanti, tak takut dicaci, TAK GENTAR MATI.,” Itulah, yang harus kita benar-benar Terapkan dalam konsep Dakwah kita. Karena Dakwah, adalah CINTA. 

Sumber dariwww.rohisman2kotabekasi.com: http://www.rohisman2kotabekasi.com/2012/01/dakwah-cinta.html

Awal Penaku

Assalamu'alaikum...
Salam persaudaraan untuk kita semua
Semoga kita dapat menjalin hubungan silaturahmi di dunia maya ini dengan baik.
Saya hanya seorang gadis kecil yang sangat manja dengan bunda, seorang bunda yang memberikan penuh dan berlimpah kasih sayang. Aku hanya ingin dapat membahagiakan bunda sampai akhir hayat nanti. Aku sayang bunda selamanya ^.^